Beranda > PENELITIAN > Pati Bengkuang untuk Produk Kecantikan

Pati Bengkuang untuk Produk Kecantikan

Bengkuang, salah satu komo ditas pertanian yang ter masuk suku polong-po – longan, ternyata tak hanya enak untuk rujak, koktail, maupun diolah sebagai makanan khas Palembang, namun juga bisa diekstrak patinya menjadi bahan masker untuk menyegarkan wajah dan memutihkan kulit. Pati paling umunya diambil dari bahan baku ketela atau singkong dengan nama tapioka.

Lihat saja di televisi, begitu banyak produk kecantikan perampuan yang dengan terus terang menyebutkan bahwa produknya mengandung bengkuang.

Bengkuang yang ciri-cirinya adalah umbi akar tunggal, kulit luar krem atau cokelat, warna daging putih, daun majemuk, bunganya berkelopak cokelat, dan mahkota bunga ungu biru atau putih ini, meskipun memiliki prospek cerah untuk dikembangkan, terdapat beberapa masalah terkait dengan kadar airnya yang cukup tinggi.

“Daya simpan bengkuang segar sangatlah pendek, hanya sekitar 3 – 4 hari. Kadar air bengkuang itu hingga 90 persen,” kata Mukhammad Angwar, peneliti pada Unit Penelitian Terpadu (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daya simpan yang pendek itu, lanjut Angwar, menyebabkan para petani tradisional tidak mampu mengoptimalkan manfaat bengkuang. Menurut Angwar, permasalahan bawaan bengkuang ini yang mengilhaminya untuk melakukan penelitian.

Terkait daya simpan yang pendek, praktis petani tidak bisa mengolah bengkuang untuk mendapatkan nilai tambah sekaligus mengatasi umur kesegaran bengkuang tersebut.

Akibatnya, pada saat panen raya, harga bengkuang di pasaran dipastikan akan anjlok, dan tentu petani akan menanggung kerugian besar.

Beberapa hal yang menimbulkan kerusakan pada bengkuang antara lain terjadinya fermentasi yang mengakibatkan pembusu kan oleh bakteri atau jamur, serta proses enzimatis dalam umbi bengkuang yang menyebabkan bengkuang susut atau keriput dan mengalami kehilangan nutrisi.

“Oleh karena itu, diperlukan suatu penanganan berupa teknologi pengolahan pascapanen bengkuang menjadi produk yang lebih awet. Salah satunya adalah dibuat produk yang dapat digunakan oleh industri kosmetik.

Dengan demikian, akan dapat menambah nilai jual bengkuang,” papar Angwar.

Proses Produksi

Dalam lima tahun terakhir, UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI, Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerjasa sama dengan Koperasi LIPI Gading Gunung Kidul, telah mengembangkan produk tepung pati bengkuang dalam skala laboratorium.

Secara garis besar, proses pembuatan pati bengkuang terdiri dari dua tahap, yakni preparasi bengkuang segar sebagai tahap pertama dan disusul dengan pengemasan. Pada tahap pertama, menurut Angwar, terdiri atas penim bangan, pengupasan, pencucian, pemarutan , pembuburan, pemerasan, pengendapan pati, pemanenan pati, pengeringan, penepungan, dan pengayakan.

Proses tahap kedua meliputi sterilisasi dan pengemasan pati bengkuang. Sementara itu, bengkuang yang bagus untuk dijadikan pati adalah bengkuang yang usia tanamnya 4,5 hingga 5,5 bulan.

Bengkuang yang paling segar untuk dimakan adalah yang berusia tanam tiga bulanan. Bulan panen yang paling bagus biasanya terjadi pada Agustus dan September.

Sentra pertanian bengkuang terbesar di Jawa, menurut Angwar, berada di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Daerah itu, selama ini, mampu memenuhi pesanan UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga lima ton bengkuang tua segar sekali kirim.

“Nah, agar mendapatkan pati terbaik, seluruh proses untuk lima ton bengkuang tidak boleh lebih dari empat hari. Sebab, bengkuang segar tidak boleh dibiarkan hingga melebihi dua hari,” jelasnya.

Bengkuang yang baru datang akan disortir dan bengkuang yang berkualitas jelek, yakni yang kulit luarnya menghitam atau sudah dihinggapi ulat, segera disingkirkan.

Sementara bengkuang yang kualitasnya baik segera dikupas dengan pisau dengan cara manual. Setelah itu, bengkuang dicuci sampai bersih tanpa menggunakan deterjen. Dari bak pencucian, bengkuang yang masih utuh itu masuk ke mesin pemarutan.

Bengkuang akan berubah menjadi serat bengkuang seperti halnya parutan kelapa, namun dengan tekstur yang lebih kasar dan besar. Keluar dari mesin pemarutan, parutan bengkuang memasuki proses pembuburan hingga menjadi lembut dan siap untuk diperas.

Proses pembuburan bisa dilakukan dua kali masukan mesin. Karena setelah ini, hasilnya akan diperas ke dalam bak yang telah disiapkan. Hasil perasan itu kemudian akan diendapkan selama sehari semalam hingga didapati serbuk endapan bengkuang yang sudah siap dipanen setelah airnya dialirkan ke pembuangan limbah.

Setelah pati bengkuang dipanen, proses selanjutnya adalah penepungan yang dimulai dengan penjemuran di panas matahari hingga dua hari untuk mendapatkan kadar air dalam pati menjadi seminimal mungkin, atau 10 persen, dan siap untuk masuk laboratorium sterilisasi sebelum kemudian dikemas dan siap dipasarkan.

“Hasil pati bengkuang cuma satu persen dari keseluruhan massa bengkuang. Seratnya 5-6 persen untuk pakan sapi dan sisanya air,” ungkap Angwar. Adapun kualitas pati bengkuang diukur berdasar ukuran keputihan yang mengacu pada ukuran zat barium sulfat (BaSO4).

“Grade A berarti mendekati 97 persen tingkat putihnya, sementara grade B hanya di kisaran 70 persen yang disebabkan salah satunya bengkuang masih muda. Kalau grade B, maka pati bengkuangnya tidak dijual,” jelas Angwar.

Pemasaran terbesar pati bengkuang selama ini adalah dari permintaan PT Merpati Mahardika Jakarta yang bergerak di bidang produk kecantikan. Sementara pasar ritel, menurut Angwar, masih sulit menyerap pati bengkuang yang harganya masih cukup mahal.

artikel yg lain :


About these ads
  1. farozi
    19 Maret 2014 pukul 1:43 am

    saya pedagang bengkoang dari kaliwungu kendal,saya ingn menawarkan bengkoang sya kpada bpak,kalau andb berkendan,

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: